11/22/11

sebatas fatamorgana saja

rinduku pada elusan lembut tangan tuhan
ketika ku merasa lelah lalu ia membelaiku dengan mesra
memberi setitik semangat di balik sentuhannya

rinduku pada tatapan cinta dari sang tuhan
ketika aku merasa terluka lalu ia tunjukkan senyuman terindahnya
sekedar menghapus lara yang mulai kehilangan arah

rinduku pada nyanyian merdu dari pita suara tuhan
ketika bingung terlihat di rona muka lalu ia bisikkan mantra-mantranya
menyingsingkan keraguan dari lengan kehidupan yang hitam nan legam

rinduku pada pelukan erat dari tuhan
ketika tangis sudah menjadi bagian dari takdir lalu dari segala arah terasa hangat dekapannya
meluruhkan segala nestapa dan menggantinya dengan cinta

rinduku padamu tuhan
ketika hati mulai merasa hampa lalu kosong merajai jiwa
kau masih tetap ada, menungguku di bangku taman surga

sejenak kau berbisik lirih di ujung telingaku
meraih ujung jemariku dengan lembut
menatapku dengan penuh kehangatan
memeluk erat dengan penuh cinta

seketika aku merasa bahagia
ya, aku berhasil meluapkan kerinduanku padamu
kita terlihat seperti sepasang sejoli yang sedang memadu kasih dan tak terpisahkan kembali kini
meskipun awalnya sempat perih terasa
sungguh itu pun bukanlah sesuatu yang berarti

ya, dengan mudah barusan kau menarik ruh dari tubuhku.
terima kasih Tuhan, aku mencintaimu.

11/10/11

adegan kalbu

sudah ku katakan
aku lebih cocok menjadi penonton saja
bukan pemeran di adegan itu

menjadi penyimak adalah profesiku
menikmati adegan adalah candu bagiku
kikuk dan rancu ketika aku harus berdiri di stage megah itu
berpose dan melenturkan tubuh tuk menghibur para pengunjung sandiwara

sejak awal aku terdidik bisu
memerani sebuah karakter bukanlah hal yang mudah untukku
katamu sudah waktunya tuk menunjukkan bakatku
sudah sepantasnya aku menari indah di atas panggung itu
memperlihatkan kemampuan yang sebenarnya mampu menyihir jutaan kalbu

mengikuti rasa yang ada di hati, kucoba melangkah meskipun getir terasa
awalnya gugup namun terasa nikmat
ketika lighting mulai menyorot fokus pada tubuhku
hangat, dan adrenalin mulai berpacu
seiring mesin waktu, tak terasa gerakan tubuh mulai mengalun lembut
semua orang terpukau, semua orang terpana
tak satupun yang mampu berkedip melihat aksi itu

terdengar decak kagum dari sudut kanan
ada yang menangis terharu dari pojok kiri
senyum kebahagiaan tampak dari bangku VVIP
dan beberapa selentingan ringan dari pinggir stage

kau menjadi lawan mainku
ketika aku mulai melompat indah
kau meraihku dengan lembut di pangkuanmu
lalu berpindah sejenak ke punggungmu
berputar lincah kembali ke hadapanmu

menikmati suasana sendu
semakin lama semakin tajam kau menatapku
aku pun tenggelam dalam tatapanmu
ada sesuatu bergulir di bola mata itu

teriakan heboh bergema seketika dari ujung bangku penonton
ya, mereka pun ikut terhanyut dalam tarian rasa yang sedang kita mainkan
ada yang iri, ada pula yang bahagia
kemudian kau tersentak, jengah di persekian detik
matamu terbelalak dan kembali mengayunku ke punggungmu
untuk kemudian kau lepas kembali di tali pertunjukan

seketika aku tergelitik menganalisis kejadian barusan
kau tak cukup fokus dalam memainkan peran
masih menyimpan batasan dengan alasan segan
dan pemandu kita sudah menunjukkan pergantian peran
aku kembali menari sendiri

dari balik tirai belakang kau menyaksikanku beraksi
konsentrasiku mulai buyar karena apa yang sudah terjadi
tiap dentingan musik, mengikuti irama, begitu pula gerakanku berubah
dan aku melihatmu terus berkode dan bersembunyi di balik tirai
tuk berbisik, bermainlah selincah mungkin, namun jangan hiraukan aku
kau pun hanya terdiam di sudut panggung, tak menyambutku kembali

kini tak ada stimulus darimu
dan mana mau aku memainkan peran lagi, apabila itu tanpamu
kau yang mengajarkanku melenturkan bakat itu

perlahan pun aku mengundurkan diri
di balik bangku penonton di sanalah habitatku
aku lebih nyaman menjadi penyimak daripada harus memainkan adegan tapi itu tanpamu

11.11.11

10/15/11

di balik senja ada cahaya














rindukan aku di pelukmu senja
ketika nafas kita terlebur menjadi satu
ketika dua pasang bola mata ini bertemu

tidakkah kau ingat ketika kita berlari bersama
kemudian pulang dan bercermin satu sama lain
menyentuh kaca dengan tangan kanan hingga terasa saling meraih
namun ternyata itu hanyalah ilusi

cahayamu semakin meredup kini
bola api mulai padam dari kegagahannya
di peraduan siang dan malam kita bertemu
tanpa ada satu kata pun yang terucap

peristiwa semata takkan menjadi hebat tanpa adanya cinta
pasir kerinduan mengubur sejenak mimpi
air penghidupan meleburkan segala emosi

keram, sang surya merasa kaya
padahal ia lupa hidupnya hanya setengah baya
merogoh setiap kebahagiaan menjadi duka
padahal sejatinya ia hanya di beri amanah menerangi hati-hati yang terluka

amarah merah bukanlah segala-galanya
kita terlalu liar tuk menyebutnya sang dewa
ingin merangkuh namun lupa ia membunuh

perumpamaan kisah ini adalah senja
jam pasir sudah menunjukkan waktunya malam tiba
lalu kau merasa takut dan semakin terkukut
meminta sang surya kembali menyinarimu

ya, kau lupa ternyata
ada bulan yang mampu menerangimu dalam ketenangan
ada bintang yang mampu hidup di kegelapan
ada hati yang selalu terang ketika pikiranmu suram

tak perlu kau khawatir
mereka semua ada di sekelilingmu
berbisik dan setia menemanimu
siap sedia memberikan bahunya tuk tempatmu bersandar
selalu sigap mencari kekuatan ketika kau butuh cahaya

tak perlu kau bingung kemana harus melangkah
menyelusuri padang pasir kegelapan tuk sekedar menatap kepastian
ia tak kan berlari jauh ketika kau jongkok menunggunya
ia masih tetap di sana
ada di bongkahan hatimu yang terdalam

ini bukan cerita cinta
tapi sebuah cerita tentang cinta
untuk dirimu, yakinlah
di balik senja, masih ada cahaya

5/5/11

bicara tentang hujan

pernah ku bersimpuh pada hujan, memohonnya tuk sampaikan salam kehangatan dari bilik rapuh..
berbicara tentang hujan mengingatkan akan kesahajaan alam yang menghadirkan kehidupan,,
setiap insan dikaruniai cinta alam bawah sadar, merangkak demi menatap surya, meringkih kesakitan agar bertemu bahagia..

pernah ku tersenyum ringkih pada hujan, berharap sisa waktuku cukup tuk sampaikan kisah ini pada dunia,,
menjalin keharmonisan alam dengan segala suka duka,,
menyaksikan kilauan darah bergelinang di depan mata..
menusuk setiap keheningan senja sampai tetesan terakhir menjadi mata air penghidupan..

pernah ku memarahi langit karena hujan,,
ia tak mampu menahan kesakitan yang terbendung disetiap hela sukma..
menjadikan semua hagemoni rasa bersinkronisasi sesuai aliran mesin waktu..
menerima fakta ketika semua itu ternyata palsu..

pernah ku menggeliat pasrah akibat hujan,,
tak sadar bahwa tiap detik bersimpuh di depan kehampaan nama
jiwa yang rapuh menjadi abstrak tak bermakna,,
ketika semua berbicara tentang cinta dan aku berteriak karena tak punya.

4/11/11

~surat untuk sang pangeran

Halo pangeranku,

apakah kamu sudah pernah berkenalan denganku sebelumnya ?
atau ternyata kamu selalu melihatku di dalam mangkuk berisi air jernih dari istana itu ?
apakah kamu tahu apa yang ada pada peri kecil ini ?
mutiara tersembunyi yang tak akan pernah tampak.
sejak ada bandit berkuda besi yang pernah mengaku sebagai pangeran berkuda putih dihadapanku,,
dan mengisi hari-hariku dengan puisi-puisi yang sangat romantis..
di awal pertemuan dia berkata tentang semesta hati..
dan pada akhirnya dia menyampaikan rela mati dalam busur puisiku..
rela terpenggal di ujung pedang syairku,,
membiarkan senandung dewa kematian merebut nyawanya,,
karena ia cuma ingin mati disiiku..
ketika pandangan kesempurnaan terhadapku benar-benar palsu..
apakah kau benar-benar tahu siapa aku wahai pangeranku ?
begaimanakah peri kecil ini akan mati pada akhirnya ?
jika istana membuatmu sulit tuk mengungkapkan seluruh rahasia bumi padaku
maka lebih baik kau diam saja sampai waktunya tiba..
akan kutunggu sampai kau mampu membuka gembok yang telah menahanmu di sana
Wahai pangeranku yang tak pernah melepas pedang di sisi kiri pinggangmu
jika harga diri adalah lebih utama daripada kasih yang ada di hati
maka perjuangkan saja rakyatmu, tak usah perdulikan aku
aku akan lebih bangga padamu ketika kau mempertahankan negeri ini tetap merdeka..
tak usah hiraukan kemana peri kecil ini akan kemana
ia telah belajar hidup di dunia yang kejam, ia tahu kemana ia harus pergi..
apakah kamu tahu apa yang paling kubenci wahai pangeranku ?
aku paling tak suka dibohongi.
karena itu aku lebih baik diam daripada harus menyelingkuhi fakta.
ketika ku rela mengabdi dan ternyata api yang kau nyalakan bukanlah tuk menerangi..
apa kamu tahu apa dampak yang terjadi padaku akibat hal itu ?
peri kecil ini sudah tak berani bermain api,
karena ia tahu pada akhirnya api itu kan membakar hatinya yang sudah sekarat..
ia sudah terbiasa menjalani hidup tanpa menggunakan perasaannya,
daripada harus bermain api dan kemudian terbakar kembali..
lebih baik nyala sumbu itu dipadamkannya..
apakah kamu tahu wahai pangeranku ?
peri kecil ini sudah tak percaya pada puisi-puisi indah..
karena apabila ia terlarut, ia kan terjatuh lagi pada sandera bandit berkuda besi selanjutnya..
yang dengan ganas akan mengambil hatinya dan membakarnya dengan kejam..
apakah kamu tahu bagaimana rasanya wahai pangeranku ?
rasanya sakit pangeran,,
apakah kamu tahu apa yang akan peri kecil ini lakukan ?
ia akan mencari tempat yang tak terjamah oleh kerajaan,
mencoba bertahan dengan sisa hatinya yang hangus sebagian..
biarlah setiap musang di hutan beranggapan dialah peri paling bengis di dunia ini..
karena memang begitu faktanya, hati si peri kecil telah habis terbakar..
karena para bandit itu tahu bahwa hati ini tidak mudah ditemukan..
seperti darahnya Bella Swan bagi Edward Cullen maupun vampir lainnya..
apakah kamu tahu wahai pangeranku ?
hati ini telah kujaga beribu-ribu tahun lamanya..
kujaga agar tetap utuh dan segar..
apabila ia terbakar, segera kucari obatnya tuk pulih dan berfungsi kembali..
meskipun semakin lama semakin cacat..
karena aku tahu bahwa hati ini langka,,
tak semua peri memilikinya..
apakah kamu sadar wahai pangeranku ?
mati-matian ku jaga hati ini sampai aku tak rela hilang dari muka bumi,,
karena sebelum dewa kematian menjemputku,
aku ingin menyerahkan hati ini kepadamu terlebih dahulu..
kepada titipan Tuhan yang berhak atasnya..
kepada pemilik yang sebenarnya..
namun, apabila kamu berniat menyia-nyiakannya,,
dengan semakin membakar hati ini..
lebih baik urusi saja kerajaanmu, dan aku akan mati dengan diriku sendiri..
ingatlah wahai pangeran, aku tak suka bermain api..
kecuali api itu mampu menerangi jiwa peri kecil ini,,
bukan malah membakarnya,,
apalagi menghancurkannya seperti mencabik-cabik organ tubuh binatang..
seperti kebiasaanmu saat berburu..
aku tak suka harus melambung tinggi ketika akhirnya harus terjatuh ke jurang..
apakah kamu tahu wahai pangeranku ?
waktuku untuk bertahan tinggal sesaat..
kini aku telah sekarat..
disaat engkau bisa meneguk anggur di istanamu..
hati ini sudah sekarat wahai pangeran..
tolong jangan kau bakar lagi..
peri kecil ini tak mampu menahan sakitnya..
tapi kamu tenang saja wahai pangeranku, peri kecil ini mampu menjaga rahasia..
ia tak akan menceritakan siapa saja bandit yang telah membakar hatinya..
apalagi untuk mengumbar bahwa sang pangeran pun pernah berniat begitu..
tenang saja wahai pangeranku,,
seluruh masyarakat istana akan tetap menghormatimu,,
mereka tak akan tahu bahwa kau pernah membakar hati sang peri kecil..
karena aku tahu, kamu pasti siap mencari obatnya..
aku hanya ingin mengingatkan,
apabila kau masih menginginkan hati ini,
janganlah kau sia-siakan,,
atau akan berakhir fatal..
aku ingin kau tetap menjadi Edward Cullen bagiku, meski hati ini terus menggodamu untuk kau habisi..
semoga kau masih melihatku dari air jernih di dalam mangkuk dari istanamu..

salam,
sang peri kecil.